Mengenal Tanda Silang Dalam Tata Ruang Permukiman Orang Hindu Sapikerep

Jika kalian berkunjung ke Gunung Bromo melewati jalur Probolinggo pasti tau dengan desa yang satu ini. Desa yang terletak dibawah kaki gunung Bromo memiliki sejuta budaya unik yang masyarakat belum ketahui. Desa yang mayoritas beragama umat muslim dan Hindu ini hidup berdampingan satu sama lain. Bagi masyarakat luar mungkin sedikit kaget dengan kultur budaya masyarakat desa Sapikerep.

Mengapa saya mengatakan demikian? karena hampir tidak ada pembeda antara umat muslim dan hindu dalam bersosialisasi. mereka berpegang teguh pada prinsip dasar toleransi.

Namun pada kesempatan kali ini, ada hal unik terkait tata ruang pemukiman orang Hindu yang menarik untuk dipelajari. Jika dilihat secara kasat mata tidak ada pembeda terkait bentuk rumahnya, namun setelah di lihat secara detail ternyata orang hindu memiliki ciri khas tersendiri. 

Tanda rumah bagi orang hindu, (sumber:Tribunjatim)


Bagi mereka permukiman (rumah) adalah salah satu unsur penting dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat, karena rumah merupakan tempat mereka berkumpul, bersatu untuk menjalankan aktivitas sehari-sehari. Namun bagi masyarakat Hindu Sapikerep menganggap rumah sebagai sesuatu yang sakral.

Hal unik yang saya temui saat berkunjung di desa Sapikerep adalah simbol silang (x) di beberapa rumah. Bagi umat muslim tanda silang tersebut digunakan untuk penanda hal tertentu, misalnya rumah terlarang  dimasuki, tanda bahaya, hingga simbol yang mengarah kepada unsur kejahatan. Tetapi bagi masyarakat Hindu Sapikerep pemaknaan tanda silang tersebut memiliki unsur religi yang patut kita toleransi

Berdasarkan observasi langsung, masyarakat Hindu Sapikerep mengatakan bahwa tanda silang tersebut sebagai simbol bahwa ada salah satu keluarga yang sudah meninggal. Tanda silang tersebut digunakan sebagai penolak bala dari anggota keluarga yang telah meninggal. Orang Hindu percaya bahwa roh orang meninggal tersebut akan berkunjung kerumah. Untuk menolak roh yang datang kerumah, tanda silang tersebut digunakan sebagai penanda (pengusir) dari bala bahaya.

Penempatan tanda silang tersebut sangat beragam, masyarakat sering memberikan tanda di depan pintu, jendela, gerbang, hingga tembok rumah. Melihat hal tersebut, keunikan inilah yang membedakan umat Islam dengan Hindu di desa Sapikerep. Meskipun terdapat perbedaan kepercayaan mereka tetap toleransi satu sama lain sehingga tak heran desa ini dijuluki kampung Pancasila.


Komentar