Penempatan tali sarung bagi wanita (Sumber: Humaniora.com)
Jika kalian berkunjung ke wisata gunung Bromo sudah tidak asing melihat banyak penduduk daerah Tengger dan sekitarnya memakai sarung, mulai dari pagi hari sampai malam hari. menguak kisah pemakai sarung masyarakat tengger ternyata memiliki keunikan tersendiri yang belum banyak orang ketahui.
Mungkin bagi kita selaku orang awam mengira pemakaian sarung untuk melindungi diri mereka dari cuaca dingin, mengingat daerah Bromo berada di ketinggian 200 mdpl yang membuat desa ini terasa sangat dingin. Bahkan suhu dapat mencapai 5 derajat celcius pada malam hari. tidak hanya itu saja, disiang haripun kabut selalu menemani aktivitas masyarakat tengger dan sekitarnya. Jadi tak heran banyak masyarakat menggunakan sarung sebagai pelindung diri dari cuaca dingin.
Namun siapa sangka, dari pemakaian sarung tersebut menyimpan makna mendalam yang banyak orang belum mengetahui. penempatan tali simpul sarung dapat mengetahui status sosial seseorang.
Penempatan sarung bagi laki-laki wilayah Sapikerep, Sukapura
(Dokumentasi pribadi)
Bagi laki-laki penempatan sarung dianggap biasa, karena itu merupakan ciri khas saat bekerja dan beraktivitas sehari-hari. Namun, bagi perempuan penempatan tali sarung memiliki makna tersendiri.
Tali disimpulkan ke depan menandakan bahwa wanita tersebut sudah menikah, Jika tali sarung disimpulkan ke kanan menandakan bahwa wanita tesebut beranjak dewasa (gadis) dan belum menikah. Tali sarung berada di bagian kiri menandakan wanita tersebut berstatus canda. Sedangkan tali berada di belakang menandakan wanita tersebut masih belum menikah (sudah cukup umur).
Masyarakat tengger dan sekitarnya khususnya wilayah gunung Bromo percaya bahwa penggunaan sarung tersebut sudah menjadi tradisi dan turun menurun sejak zaman dahulu. Bahkan masyarakat Bromo dapat mengetahui jika ada orang lokal berkunjung dan memakai sarung, mereka tahu bedanya orang lokal dengan pendatang dalam hal pemakaian sarung.
Secara tidak langsung penempatan tali sarung tersebut memberikan wawasan baru bahwa setiap suku memiliki ciri khas tersendiri dalam beraktivitas. Keterikatan masyarakat sekitar Bromo dengan sarung seolah menjadi kain utama yang wajib digunakan baik acara formal maupun non formal dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Komentar
Posting Komentar