Agama merupakan
salah satu bidang keberagamaan di indonesia, hal tersebut dibuktikan dalam
dasar negara kita yaitu Pancasila. Seperti yang kita ketahui di Indonesia
terdapat enam agama yang telah diakui, diantaranya agama Islam, Kristen,
Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Berdasarkan data dari Humas UNS
menyebutkan bahwa pemeluk agama islam mencapai 87,2%, sedangkan agama Kristen
6,9%, agama Katolik 2,9%, agama Hindu 1,7%, agama Budha 0,7% dan agama Konghucu
0,05%. Dari data presentasi diatas membuktikan bahwa agama islam paling dominan
dari pada agama lainnya di Indonesia, tetapi bukan tolak ukur perpecahan
keberagaman agama. Melihat data tersebut penulis tertarik mengkaji terkait
kehidupan masyarakat multi agama khususnya di kawasan perumahan royal residence
surabaya, mengingat kasus keberagaman agama penting dikaji.
Kita hidup di zaman globalisasi
dengan arus sosial yang tinggi. Hampir semua linih kehidupan tidak luput dari
yang namanya interaksi mengingat kita adalah makhluk sosial. Hal tersebut
dibuktikan dengan kehidupan bersama masyarakat multi agama di Kecamatan
Babatan, Perumahan Royal Residence Surabaya. Siapa sih yang tidak kenal dengan
kota Surabaya. ?
Kota
yang identik dengan patung Sura dan Baya ini ternyata memiliki kultur
keberagamaan yang tinggi. Kehidupan masyarakat perumahan Royal Residence yang
telah dijalankan bersama dengan masyarakat dari semua golongan agama bisa hidup
bersama tanpa mengabaikan kebebasan mendasar satu sama lain terkait keharusan
beragama. Sebab, masyarakat disana berpegang teguh pada prinsip keberagaman
antara hubungan secara dialek, hubungan manusia, masyarakat, agama dan budaya.
Enam rumah ibadah yang berdiri secara berdampingan
dikawasan perumahan Royal Resedence Surabaya. (Sumber: BASRA Berita Anak
Surabaya)
Pada
dasarnya setiap manusia memiliki pedoman hidup sendiri untuk kehidupan
sehari-harinya, pedoman tersebut tentu berlandasan pada agama yang di anut.
Konsep nyata multi agama paling menonjol berada di perumahan Royal Residence
Surabaya. Menurut pernyataan ketua pengelola perumahan tersebut mengatakan,
awal mula membentuk enam rumah ibadah adalah keluhan masyarakat perumahan yang
mayoritas memiliki agama beragam kesulitan saat melakukan ibadah. Sehingga
pihak pengelolaan perumahan berinisiatif untuk membangun rumah ibadah secara
berdampingan agar memudahkan warga perumahan dalam beribadah.
Ternyata
pembangunan enam rumah ibadah tersebut mendapatkan respon positif dari warga
perumahan. Berdasarkan penuturan Ibu Yesi, berusia 59, Pemeluk agama Kristen
beliau mengatakan bahwa “Saya baru pertama kali tinggal dengan warga yang
beragam agama, sebelumnya tahun 2018 saya merasakan bertempat tinggal dan hidup
sehari-hari dengan tetangga yang hanya mayoritas agama islam dan kristem dan
baru-baru ini saya bertempat tinggal dengan warga yang berbagai macam agama,
sebenarnya saya merasa canggung, tetapi pada saat itu saya mencoba untuk
beradaptsi dengan warga yang berbeda agama seperti beragama hindu, budha dan
konghucu, karena saya baru pertama kali, jadi saya selalu berkomunikasi dengan
baik, menjaga sikap dan tidak membahasa agama atau hal yang merendahkan agama
yang dianut.“
Melihat
pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa hidup dalam pusaran masyarakat multi
agama tidak mudah dilakukan. Lingkaran hidup yang mengharuskan untuk menjaga
sikap dan tutur kata memberikan pelajaran penting tentang adaptasi antar
pemeluk agama. Ragam strategi adaptasi masyarakat perumahan Royal Residence
mulai diterapkan dengan baik, dari adaptasi lingkungan sosial, hingga
musyawarah mufakat.
Dalam
hal adaptasi sosial mereka melakukan interaksi dengan cara berbaur tanpa
menyinggung persoalan agama. Pada dasarnya proses adaptasi merupakan point
penting bagi masyarakat yang bertempat tinggal di lokasi keberagamaan agama.
Adaptasi sosial ini tercermin dari menghargai setiap perbedaan adat istiadat,
budaya dan ajaran dari setiap agama. Lalu yang menjadi
pertanyaan adalah bagaimana jika ada salah satu rumah ibadah yang melakukan
acara keagamaan, apakah tidak mengganggu agama lain ?
Permasalahan
ini pasti kerap kali dipertanyakan. Tetapi dengan sikap toleransi masyarakat
perumahan Royal Residence Surabaya memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada
pengurus masing-masing rumah ibadah melakukan acara keagaman dengan catatan
sudah memberitahukan pihak pengelola perumahan.
Musyawarah antar pemeluk agama melalui forum
komunikasi rumah ibadah (Sumber: Tagar.id)
Selain
adaptasi sosial, masyarakat perumahan royal residence Surabaya juga sering
melakukan musyawarah mufakat. Tujuan musyawarah ini sebagai bentuk penyaluran
ide atau keluh kesah masyarakat multi agama. Bentuk forum musyawarah tersebut
dinamakan forum cangkrukan. Berdasarkan penuturan bapak Buyung selaku ketua
musyawarah mengatakan forum ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan
keamanan. ketertiban, dan kebersihan. Contohnya bagaimana mengatur parkiran
karena beberapa agama melakukan kebaktiannya hampir bersamaan seperti agama
katolik, greja dan katolik pada hari minggu. Terkadang melakukan gotong royong
bersama dan lain-lain. Sehingga melalui forum ini menjadi wadah untuk terus
berdiskusi dengan semua agama. Selain itu, forum tersebut menjadikan masyarakat
lebih menjaga tali silahturahmi dengan pemeluk agama lain, menghindari konflik
dan dapat menghargai apa yang dilakukan oleh setiap rumah ibadah.
Hal
unik di perumahan Surabaya adalah sikap solidaritas dan toleransi yang tinggi. Mereka
menyepakati toleransi terjalin antar masyarakat umat beragama merupakan kondisi
kehidupan sosial ketika dalam satu golongan agama bisa hidup bersama, bisa menerima
satu dengan lainnya, tanpa membeda-bedakan dan tanpa mengurangi hak dasar
masing-masing untuk dapat melaksanakan kewajiban dalam agamanya. Setiap agama
pasti memiliki prinsip dan kaidah-kaidah yang memperkuat, baik sebagai kaidah
yang baik maupun menolak kaidah yang buruk untuk ditinggalkan sebagai larangan.
Didalamnya juga terdapat saksi-saksi kepada orang yang dengan sengaja
melanggar.
Melihat
kerukunan kehidupan masyarakat multi agama di perumahan royal residence
Surabaya Kecamatan Babatan membuktikan bahwa sejauh apapun kita hidup sikap
toleransi dan beradaptasi penting dilakukan. Berpegang teguh ajaran agama yang
diatut mengantarkan kita kepada kebaikan, sebab jika seseorang berbuat kebaikan
sesuai ajaran agamanya, secara tidak langsung mereka telah berpegang teguh atas
ajaran agama yang dianut. Bagi saya pribadi selaku penulis, melihat keberagaman
agama dapat berbaur dalam suatu wilayah adalah sebuah fenomena luar biasa yang
patut dicontoh bagi wilayah lain, karena tidak jarang konflik-konflik yang
mengatas namakan agama sering terjadi.
Komentar
Posting Komentar