Analisis Alat Tangkap Udang Ramah Lingkungan (Trammel Net) Berbasis Code Of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF) di TPI Paiton

 

Kantor Pusat Instalasi Pelabuhan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan 
(Sumber: dokumen pribadi). 


    TPI Paiton merupakan Unit Pelabuhan Perikanan Pantai Paiton (UPPP Paiton) yang berlokasi di jalan Lapangan Tembak, Dusun Pesisir, Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo dengan titik koordinat 07’42’24’.72” LS dan 113’31’25.57’BT. Pada awalnya pelabuhan ini hanya digunakan untuk pendaratan ikan oleh nelayan sekitar. Namun melihat potensi laut yang cukup baik membuat Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur berupaya untuk mengelola. Sehingga sejak tahun 2012 pelabuhan Paiton resmi dibangun dan dikelola oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur. Bukan hanya itu saja, keberadaan TPI Paiton memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar dan luar. Lokasinya yang dekat dengan PLTU Paiton semakin menambah indahnya Kawasan TPI Paiton saat malam hari. Instalasi Pelabuhan Perikanan Panati semakin mendukung infrastruktur pembangunan.

TPI Paiton saat ini mengalami banyak perubahan, mulai dari TPI Paiton menjadi IPP (Instalasi Pelabuhan Perikanan) Paiton. kemudian berubah menjadi IP22SKP (Instalasi Pelabuhan dan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan) Paiton, hingga terakhir menjadi IPPP (Instalasi Pelabuhan Perikanan) Paiton. Secara tidak langsung keberdaan TPI Paiton menunjang perekonomian warga sekitar karena menjadi sentra usaha perikanan tangkap bagi nelayan sekitar. Ini membuka TPI Paiton menjadi peluang pekerjaan bagi masyarakat dalam maupun luar kecamatan paiton. 

   
    A.    Hasil Analisi Alat Tangkap Udang

Berdasarkan penelitian terhadap alat tangkap udang ramah lingkungan di TPI Paiton umumnya masih menggunakan alat tangkap tradisional. Berdasarkan data dari Pusat Perikanan dan Kelautan TPI Paiton serta wawancara langsung dengan beberapa nelayan, dapat ditarik kesimpulan terdapat 4 cara penangkapan udang di TPI Paiton yaitu Trammel Net (jaring lapis tiga.jaring klithik, Gill Net, Trawl (Pukat), Jala. 

Gambar wawancara terkait alat tangkap udang di TPI Paiton (Sumber: dokumen pribadi)

Alat tangkap Trammel Net paling banyak dipilih karena mempunyai dampak kecil terhadap lingkungan, selain itu Trammel Net dapat mengurangi tekanan terhadap sumber daya akibat penangkapan udang secara terus menerus. Penyebutan jaring Trammel Net atau jaring klithik disetiap daerah berbeda-beda, tetapi bagian jaring sama. Salah satu jaring terdiri dari beberapa buah jaring disetiap bagian. Dalam Inner net terbuat dari bahan nylon dengan ukuran mesh size 2 inci 6 cm. Sedangkan bagian outer terbuat dari bahan tasi dengan ukuran mesh size 10 inci/20cm, dengan kedalaman jaring 2,5 meter. 

    Prinsip utama jaring Trammel Net adalah menghadang pergerakan udang dan membuatnya terjerat pada jaring karena didalam dan diluar terdapat beberapa jaring yang berbeda. Bagian-bagian jaring terdiri dari tali utama sebagai pelampung, pelampung tanda (main buoy) sebagai penanda lokasi, pelampung utama, pemberat, dan pemberat tambahan agar kedudukan jaring lebih stabil. Biasanya para nelayan menangkap udang secara berkelompok, hal ini memudahkan dalam perencanaan penangkapan, penyelesaian masalah yang diahadapi saat di laut serta menguatkan kerja samaa antar para nelayan dalam menangkap udang.

    Hasil tangkapan jaring Trammel Net biasanya Udang Windu (Penaeus monodon) dan Udang Putih/Jerbung. Udang Windu memiliki panjang berkisar 12,7 - 20,32 mm dengan habitatnya di dasar rumput dan pasir sedangkan Udang Putih/Jerbung memiliki panjang berkisar. Di Indonesia sendiri Udang Windu menjadi udang yang sering di tangkap oleh nelayan.

       Hasil penangkapan gill net Hasil tangkapan gill net adalah ikan yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi seperti: ikan Layur (Trichiurus sp.) dan Barakuda (Sphyraena barracuda). Selain itu, gill net merupakan alat tangkap pasif yang menghadang gerombolan ikan, memungkinkan ikan untuk dapat kabur atau lolos saat terkena mata jaring. Selain itu, ukuran alat tangkap yang relatif kecil menjadikan alat tangkap gill net hanya menangkap sebagian kecil dari gerombolan sehingga aman terhadap kelangsungan biodiversitas.

B. Analisis Alat Tangkap Udang menggunakan Gill Net

Menurut Rusmilyansari (2012) menyebutkan hasil tangkapan gill net didominasi oleh ikan mati segar. Hal ini disebabkan oleh konstruksi alat tangkap yang ada dapat melukai atau tidak melukai dan lama pengoperasian alat tangkap. Hasil penangkapan gill net Hasil tangkapan gill net adalah ikan yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi seperti: ikan Layur (Trichiurus sp.) dan Barakuda (Sphyraena barracuda). Selain itu, gill net merupakan alat tangkap pasif yang menghadang gerombolan ikan, memungkinkan ikan untuk dapat kabur atau lolos saat terkena mata jaring. Selain itu, ukuran alat tangkap yang relatif kecil menjadikan alat tangkap gill net hanya menangkap sebagian kecil dari gerombolan sehingga aman terhadap kelangsungan biodiversitas. [1]

Alat tangkap gill net termasuk alat tangkap udang dengan biaya investasi kecil yang cocok dengan masyarakat TPI Paiton mengingat mayoritas warga TPI Paiton memiliki ekonomi menengah kebawah. Kriteria penangkapan jaring ini juga tidak membahayakan udang serta nelayan. Menurut salah satu nelayan mengemukakan bahwa nelayan menemukan kapal dengan alat tangkap udang yang jelas-jelas dilarang, namun sembunyi-sembunyi di operasikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa gill net adalah alat tangkap udang ramah lingkungan dan sesuai dengan kondisi masyarakat TPI Paiton


[1] Rusmilyansari. 2012. Inventarisasi Alat Tangkap Berdasarkan Kategori Status Penangkapan Ikan yang Bertanggungjawab di Perairan Tanah Laut. Journal Fish Scientiae, 2(4): 143-153.


Komentar