Sumber : Diskriminasi Gender di Indonesia (Barakata.id)
Tubuh
dan kecantikan memang menjadi urusan utama perempuan. Dari ujung rambut sampai
ujung kaki tampaknya penting bagi perempuan untuk merasa cantik, dikarenakan
tubuh perempuan bersifat potongan-potongan yang estetik. Hal ini dianggap wajar
dan lumrah disetiap kalangan masyarakat pasalnya mereka menilai standar
kecantikan perempuan dilihat dari fisik. Tuntutan kecantikan secara permanen
ditekankan kepada perempuan. Sejak dini, kepada perempuan sudah ditanamkan
bahwa kecantikan dan tubuh indah itu penting untuk mendapatkan imbalan.
Kalimat-kalimat seperti, “ Kamu cantik sekali memakai gaun itu, atau duhh
siapa sih yang kepangin rambutnya kok jadi manis banget “. Secara tidak
sadar stigma inilah yang pada akhirnya membentuk tradisi di masyarakat yang
ujungnya melahirkan persaingan sejak dini. Jika ada beberapa anak perempuan
dalam satu keluarga, bahkan orang tua sendiri membanding-bandingkan kecantikan satu
sama lain. Yang lebih cantik dipuji-puji (imbalan), yang kurang cantik
diabaikan bahkan kurang diperhatikan sehingga mendapatkan komentar negatif.
Padahal
sejak kecil anak perempuan mendapatkan penguatan (reinforcement) jika ia
memenuhi standar kecantikannya. Namun, Ketika beranjak dewasa kita melihat
reward akan kecantikan ini lebih besar lagi. Tanpa disadari reward-reward yang
sudah mereka terima atau diterima orang lain yang lebih cantik telah
memengaruhi perempuan untuk menjadikan tubuh dan kecantikan sebagai aspek penting
dalam membangun harga diri. Sementara itu, media masa mengonstruksi kecantikan
perempuan melalui iklan produk kecantikan dengan model-model cantik yang tentu
saja mengikuti kriteria kecantikan yang ditetapkan oleh masyarakat. Akibatnya
perempuan “ kebanyakan “ terus terpapar kecantikan si model. Sedangkan dalam
diri mereka telah tertanam bahwa penting untuk menjadi cantik. Perlahan mereka
pun mengembangkan rasa kurang percaya diri dan akan selalu merasa diri kurang
menarik. Dalam tingkat ekstrem, bisa saja mengalami body dysmorphic disorder.
Ada
pula perempuan yang justru menyadari dirinya menarik, lalu menjadikan tubuhnya
sebagai objek pemikat pria. Seolah-olah hidupnya diabadikan untuk mencari
perhatian pria lewat penampilan fisik, untuk terus menvalidasi dirinya. Inilah
salah satu kepribadian yang dinilai memberikan dampak negatif. Ia tahu bahwa
dirinya cantik, tetapi selalu membutuhkan kekaguman orang lain atas
kecantikannya. Dan sebagian lagi melakukan berbagai cara untuk mendapatkan
tubuh ideal dengan berbagai cara. Dengan kata lain gambaran suram kondisi
mental perempuan merupakan akibat dari perempuan terjebak mitos kesempurnaan
yang lagi-lagi diciptakan oleh masyarakat. Dalam upaya menjadi sempurna,
mencapai ideal masyarakat, serta menjadi perempuan yang neurotik.
Melawan
Budaya Masyarakat Yang Sakit.
Mengutip
perkataan filsuf Olivia Gazale dalam bukunya yang berjudul Le mythe de le
virilite (2017) mengenai esensialisasi perempuan beliau berkata, masyarakat
selalu menuntut perempuan untuk selalu mengikuti standar yang sulit dipenuhi.
Perempuan harus cantik sealami mungkin. Jika mereka kalah soal fisik sebaiknya
mengompensasinya dengan pencapain lain misalnya, dengan pencapain akademik,
prestasi, dan bakat-bakat lainnnya. Mereka juga dituntut harus perawan dalam
artian karakteristik perempuan baik-baik dalam hal bersikap dan berperilaku.
Pendapat yang dilontarkan oleh filsuf Olivia Gazale ini menjadi bukti nyata
kejadian yang ada di kalangan kita, khusunya tradisi masyarakat yang seakan
mendikriminasi perempuan. Kondisi pemahaman yang lemah serta jerat budaya
masyarakat yang sakit semakin menuntut perempuan harus memenuhi tiga peran
sekaligus untuk memuaskan masyarakat patriarkal. Mereka harus dituntut menjadi
seorang perawan, ibu, dan super mom. Padahal ketiga peran tersebut
bertentangan. Bukankah tidak mungkin seorang ibu harus menjadi perawan, ibu dan
super mom secara bersamaan?. Namun karena ini tuntutan ketidakmapuan
memenuhi salah satu akan menimbulkan kecemasan dan rasa kurang percaya. Padahal
kodrat wanita pada dasarnya hanya mengandung, melahirkan dan menyusui.
Terlebih
lingkaran masyarakat yang semakin mendiskriminasikan perempuan yang pada
akhirnya membuat stigma penurunan mental rendah diri kronis yang terus menggerogoti
perempuan dalam budaya patriarkal yang mereka buat. Terjerat mitos kesempurnaan
dan jebakan harga diri dalam budaya masyarakat yang sakit mengakibatkan
gangguan kondisi mental pada sebagian perempuan. Dilansir dari data Komnasperempuan.go.id
sepanjang tahun 2020 saja sudah tercatat sebesar 299.911 kasus kekerasan
terhadap perempuan. Tentu ini menjadi masalah yang sangat serius di negara
kita. Ini bukan hanya menyangkut kekerasan yang berbau fisik semata, tetapi
meliputi kekerasan akan kasus berbasis gender dan non gender. Dari data kasus
yang ditangani oleh Lembaga layanan mitra Komnas Perempuan, jenis kekerasan
terhapat perempuan tercatat paling menonjol adalah di dalam ranah personal atau
(KDRT) Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Rumah yang dianggap paling nyaman
untuk perempaun berlindung justru menjadi tembok yang memenjarakan perempuan.
Penelitian penyebutkan diskriminasi ini biasanya dilakukan oleh pasangan
sendiri. Dimana tidak lain pasangan atau suami menuntut perempuan menjadi
sempurna mengikuti tiga kriteria yang lagi-lagi mendeskriminasi perempuan.
Miris?
Mungkin itu ungkapan yang selalu dilontarkan oleh banyak pihak. Terlebih dewasa
ini masyarakat juga mengharapkan menjadi perempuan aktif, bukan hanya menjadi
perempuan yang domestik. masyarakat justru memandang “ rendah “ karena hanya
menjadi sebatas ibu rumah tangga. Khususnya bagi perempuan-perempuan muda yang
merelakan karirnya demi mengikuti tuntutan suami untuk tetap dirumah saja.
Padahal tidak selamanya menjadi ibu rumah tangga di pandang rendah. Setiap
orang ingin Bahagia, setiap orang ingin sejahtera dengan caranya sendiri.
kebanyakan perempuan mengira bahwa untuk sejahtera mereka harus mengikuti
tuntutan masyarakat. Padahal faktanya kecantikan tidak menjamin kebahagian
seseorang.
Carrol
D. Ryff, seorang pengagas teori kesejahteraan psikologi juga berpendapat,
konsep untuk menjadi sejahtera tidak harus selalu mengenai fisik, tetapi
seseorang dianggap sejahtera jika ia mampu menerima diri sendiri, memiliki
tujuan hidup yang jelas, mengembangkan relasi yang positif dengan orang lain,
serta menguasai lingkungan hingga akhirnya tumbuh menjadi perempuan yang
mandiri dan punya prinsip hidup. Tapi yang menjadi masalah disini adalah
bagaimana dengan perempuan yang hidup dalam masyarakat patriarkis dapat
melakukan hal tersebut ?. jawabannya tentu saja kembali lagi kepada diri
perempuan secara pribadi, bagaimana ia bisa menginterprestasikan diri sendiri.
mereka harus bisa mengenali dan menerima dirinya sendiri. Perempuan harus
mendekonstruksi feminitasnya, tidak lagi terkukung oleh mitos budaya
kesempurnaan yang di tetapkan masyarakat. Perempuan harus berani melawan rasa
takut akan ketidaksempurnaan.
Melihat
semua kasus diskriminasi yang selalu menimpa perempuan ini membuktikan perlu adanya
penanganan lebih lanjut dari pemerintah, meskipun pemerintah sudah mengeluarkan
Undang-Undang tentang perlindungan terhadap perempuan tetapi faktanya makin
maraknya kasus yang terjadi. Jadi penting sekali semua elemen birokrasi didalam
negeri ini mulai dari kalangan atas sampai bawah untuk lebih menghargai diri
perempuan. Sebab perempuan yang sejahtera bukanlah perempuan yang sempurna.
Menjadi perempuan yang sejahtera itu justru terbebas dari kompleks-kompleks
kesempurnaan yang standarnya diciptakan dan dipaksakan oleh masyarakat. Jadilah
perempuan yang tegas menolak diskriminasi serta menjadi diri sendiri dengan
menerima ketidaksempurnaan yang dimiliki menjadikannya unik.
Daftar Pustaka
Ester Lianawati, 2020. Ada
Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan. D.I. Yogyakarta: EA Books.
Olivia Gazale, Le mythe de le
virilite (2017)
Komnas perempuan.go.id. Edisi 5
Maret 2021
Komentar
Posting Komentar